Langsung ke konten utama

Covid-19 dalam ekonomi politik dan kesenjangan sosial di Indonesia


Kehadiran Covid-19 memberikan goncangan atau dampak secara sistematik terhadap kondisi perekonomian Indonesia, hantaman pada sektor  ekonomi yang ditimbulkan oleh Covid-19 begitu sangat keras. Kegiatan perekonomian sebuah negara menjai sorotan ditengah pandemic global ini, setiap negara pastinya bukan tiak mungkin aktivitas ekonomi politiknyanya membutuhkan situasi yang kondusif dalam mempertahankan tren yang baik dan bagus dalam perekonomiannya. Sejak wabah ini merebak Indonesia banyak kehilangan pendapatan baik dalam sektor manufaktur dan juga industry pariwisata, kedua hal ini memiliki pengaruh signifikan alam ekonomi Indonesia.
Lalu bagaimana keadaan pertumbuhan perekonomian di Indonesia sekarang ? Kepala Ekonomi PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Penggabaen memprediksi pertumbuhan Ekonomi Indonesia I tahun ini bakala berada ikisaran 1,8 persen, sementara untuk laju inflasi bertengger di angka 2,7 persen. Dalam hal ini yaitu prediksi yang diberikan cukup optimis jika dibandingkan dengan prediksi beberapa ekonomi lainnya. Banyak dari berbagai lembaga peneitian yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi tak bakal diatas 1 persen, bahkan aa juga yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi indonesia dibawah 0 persen.
Kondisi negara kita sekarang sangat disayangkan sebab Indonesia tidak mempunyai modal untuk menopang ekonomi pada pasca krisis seperti sekarang ini. Kita tidak mempunyai kemampuan untuk mem-back up ekonomi kita supaya tidak turun terlalu tajam. Sistem kapitalis seolah menjadi realitas mengerikan yang mengakibatkan adanya ketimpangan sosial. Ribuan bahkan jutaan orang terlempar dari pekerjaan.
Berbicara tentang kekuasaan pemerintah dan juga ekonomi politik dalam kondisi sekarang membuat bulu kuduk saya bergidik karena melihat fenomena yang terjadi kekuasaan hanya bisa dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk memerintah dengan menggunakan otoritasnya dan bisa menjadi alat untuk menindas kaum-kaum yang lemah. Seseorang yang mempunyai otoritas akan sesuatu disebut sebagai pemimpin dan seseorang yang menerima pengaruh kekuasaanya disebut pengikut. Biasanya masyarakat memandang atau melihat kekuasaan ada yang bersifat positif dan negative . Yang saya lihat kekuasan yang bersifat positif yaitu ketika seorang pemimpin menggunakannya untuk kesejahteraan bersama yang akan membuahkan hasil yang baik untuk semuanya, sedangkan yang dinilai negative yaitu ketika kekuassan itu dipergunakan untuk kepentingan pribadi bagi mereka yang memegang kekuassan tersebut tentu untuk keepuasan diri mereka sendiri dengan mempergunakan para pengikutnya untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri tanpa memperdulikan hal-jal yang akan dilalui para pengikutnya untuk mewujukan keinginan mereka.
Seorang penguasa pastinya ingin mendapatkan dan mengukuhkan kekuasaannya. Pertanyaannya disini melalui apa mereka bisa mendapatkan itu ? jawaban singkatnya yaitu mereka akan melakukan berbagai hal an menggunakan semua kekuatan mereka untuk mendapatkan yang namanya kepercayaan dan dapat melestarikan kekuasaan mereka, hal ini bisa mereka dapatkan melalui media massa, televise, flm maupun surat kabar. Dengan melalui media massa mereka bisa membangun citra yang bagus dan smenguasai semua bidang-bidang kehidupan.
Negara kita merupakan negara yang sudah maju akan tekhnologi, kita bisa mengakses apapun itu hanya dengan mengklik atau menulis sesuatu di ponsel maupun di laptop maka akan muncul semua apa yang kita cari dan butuhkan seperti literasi media yang focus utamanya berkaitan dengan isi pesan media yang secara harfiah dapat iartikan sebagai suatu kemapuan untuk mengakses, menggevaluasi, dan mengomunikasikan isi pesan media. Hampir semua masyarakat menginginkan maupun mendambakan munculnya program-program yang benar-benar tepat untuk mereka dan keluarganya tetapi disayangkan disini ada beberapa media yang berada dibawah kendali penguasa.
Seperti halnya pada masa lalu, ketika dunia pertelevsian kita hanya diisi oleh TVRI, anak-anak dan remaja hanya mendapatkan hiburan ari tokoh boneka semacam Pak Raden, Si Unyil, Pak Ogah, dan lain-lain. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, ketika mulai bermunculan siaran televise swasta, anak-anak dan remaja kita mulai bingung pilihan tontonan mereka, alias keriuhan yang membingungkan. Setiap hari kita dicekoki berbagai macam asupan-asupan berita politik yang tak kunjung ada hentinya yang seakan saya yang melihat hal itu merasakan kemuakan tersendiri, memang kita juga pantas mengetahui apa saja yang dilakukan para pemimpin kita untuk negara ini tapi saya memilih untuk memikirkan hal yang lain dari media yang begitu gencar dalam hal- hal seperti itu. Apakah asupan berita seperti itu sengaja dibuat untuk mengubah pola fikir kita terhadap sesuatu hal atau mungkin ada motif lain dibalik semua ?. Dengan kata lain kekuasan bisa mngontrol apapun.
Wabah yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia menimbulkan kesenjangan sosial di negara kita karena jumlah penduduk yang begitu banyak, kesenjangan ini terpicu oleh adanya kemiskinan yang merajalela akibat dampak dari covi-19 yang mengharuskan kita untuk melaksanakan yang namanya sosial distancing, dampak dari wabah ini sangat dirasakan oleh si miskin karena mereka yang bergantung hidupnya diluar rumah untuk menafkahi keluarga kini mereka tidak bisa lagi karena aturan yang dikeluarkan pemerintah untuk tetap dirumah saja, melakukan aktifitas dirumah .
Semua pihak harus bersatu. Jangan ada lagi kebijakan sektoral dan kewilayahan yang tidak komprehensif dalam mengatasi Covid-19 sehingga mengakibatkan kebijakan hanya menguntungkan kelompok atas dan merugikan kelompok bawah seperti saat ini. Apabila negara tidak melakukan lockdown, maka cukup kebijakan komprehensif ini dilakukan dan harus dilakukan segera untuk keselamatan semua, khususnya mereka yang miskin dan terpapar Covid-19 yang paling besar. Negara harus menyadari bahwa kebijakan social distancing ini tidak tepat kepada yang miskin (bias against the poor) yang justru seharusnya dilindungi oleh negara untuk penyelamatan ekonomi termasuk juga kaum atas.
Kehadiran Covid-19 memberikan goncangan atau dampak secara sistematik terhadap kondisi perekonomian Indonesia, hantaman pada sektor  ekonomi yang ditimbulkan oleh Covid-19 begitu sangat keras. Kegiatan erekonomian sebuah negara menjai sorotan ditengah pandemic global ini, setiap negara pastinya bukan tiak mungkin aktivitas ekonomi politiknyanya membutuhkan situasi yang kondusif dalam mempertahankan tren yang baik dan bagus dalam perekonomiannya. Sejak wabah ini merebak Indonesia banyak kehilangan pendapatan baik dalam sektor manufaktur dan juga industry pariwisata, kedua hal ini memiliki pengaruh signifikan alam ekonomi Indonesia.
Lalu bagaimana keadaan pertumbuhan perekonomian di Indonesia sekarang ? Kepala Ekonomi PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Penggabaen memprediksi pertumbuhan Ekonomi Indonesia I tahun ini bakala berada ikisaran 1,8 persen, sementara untuk laju inflasi bertengger di angka 2,7 persen. Dalam hal ini yaitu prediksi yang diberikan cukup optimis jika dibandingkan dengan prediksi beberapa ekonomi lainnya. Banyak dari berbagai lembaga peneitian yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi tak bakal diatas 1 persen, bahkan aa juga yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi indonesia dibawah 0 persen.
Kondisi negara kita sekarang sangat disayangkan sebab Indonesia tidak mempunyai modal untuk menopang ekonomi pada pasca krisis seperti sekarang ini. Kita tidak mempunyai kemampuan untuk mem-back up ekonomi kita supaya tidak turun terlalu tajam. Sistem kapitalis seolah menjadi realitas mengerikan yang mengakibatkan adanya ketimpangan sosial. Ribuan bahkan jutaan orang terlempar dari pekerjaan.
Berbicara tentang kekuasaan pemerintah dan juga ekonomi politik dalam kondisi sekarang membuat bulu kuduk saya bergidik karena melihat fenomena yang terjadi kekuasaan hanya bisa dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk memerintah dengan menggunakan otoritasnya dan bisa menjadi alat untuk menindas kaum-kaum yang lemah. Seseorang yang mempunyai otoritas akan sesuatu disebut sebagai pemimpin dan seseorang yang menerima pengaruh kekuasaanya disebut pengikut. Biasanya masyarakat memandang atau melihat kekuasaan ada yang bersifat positif dan negative . Yang saya lihat kekuasan yang bersifat positif yaitu ketika seorang pemimpin menggunakannya untuk kesejahteraan bersama yang akan membuahkan hasil yang baik untuk semuanya, sedangkan yang dinilai negative yaitu ketika kekuassan itu dipergunakan untuk kepentingan pribadi bagi mereka yang memegang kekuassan tersebut tentu untuk keepuasan diri mereka sendiri dengan mempergunakan para pengikutnya untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri tanpa memperdulikan hal-jal yang akan dilalui para pengikutnya untuk mewujukan keinginan mereka.
Seorang penguasa pastinya ingin mendapatkan dan mengukuhkan kekuasaannya. Pertanyaannya disini melalui apa mereka bisa mendapatkan itu ? jawaban singkatnya yaitu mereka akan melakukan berbagai hal an menggunakan semua kekuatan mereka untuk mendapatkan yang namanya kepercayaan dan dapat melestarikan kekuasaan mereka, hal ini bisa mereka dapatkan melalui media massa, televise, flm maupun surat kabar. Dengan melalui media massa mereka bisa membangun citra yang bagus dan smenguasai semua bidang-bidang kehidupan.
Negara kita merupakan negara yang sudah maju akan tekhnologi, kita bisa mengakses apapun itu hanya dengan mengklik atau menulis sesuatu di ponsel maupun di laptop maka akan muncul semua apa yang kita cari dan butuhkan seperti literasi media yang focus utamanya berkaitan dengan isi pesan media yang secara harfiah dapat iartikan sebagai suatu kemapuan untuk mengakses, menggevaluasi, dan mengomunikasikan isi pesan media. Hampir semua masyarakat menginginkan maupun mendambakan munculnya program-program yang benar-benar tepat untuk mereka dan keluarganya tetapi disayangkan disini ada beberapa media yang berada dibawah kendali penguasa.
Seperti halnya pada masa lalu, ketika dunia pertelevsian kita hanya diisi oleh TVRI, anak-anak dan remaja hanya mendapatkan hiburan ari tokoh boneka semacam Pak Raden, Si Unyil, Pak Ogah, dan lain-lain. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, ketika mulai bermunculan siaran televise swasta, anak-anak dan remaja kita mulai bingung pilihan tontonan mereka, alias keriuhan yang membingungkan. Setiap hari kita dicekoki berbagai macam asupan-asupan berita politik yang tak kunjung ada hentinya yang seakan saya yang melihat hal itu merasakan kemuakan tersendiri, memang kita juga pantas mengetahui apa saja yang dilakukan para pemimpin kita untuk negara ini tapi saya memilih untuk memikirkan hal yang lain dari media yang begitu gencar dalam hal- hal seperti itu. Apakah asupan berita seperti itu sengaja dibuat untuk mengubah pola fikir kita terhadap sesuatu hal atau mungkin ada motif lain dibalik semua ?. Dengan kata lain kekuasan bisa mngontrol apapun.
Wabah yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia menimbulkan kesenjangan sosial di negara kita karena jumlah penduduk yang begitu banyak, kesenjangan ini terpicu oleh adanya kemiskinan yang merajalela akibat dampak dari covi-19 yang mengharuskan kita untuk melaksanakan yang namanya sosial distancing, dampak dari wabah ini sangat dirasakan oleh si miskin karena mereka yang bergantung hidupnya diluar rumah untuk menafkahi keluarga kini mereka tidak bisa lagi karena aturan yang dikeluarkan pemerintah untuk tetap dirumah saja, melakukan aktifitas dirumah .
Semua pihak harus bersatu. Jangan ada lagi kebijakan sektoral dan kewilayahan yang tidak komprehensif dalam mengatasi Covid-19 sehingga mengakibatkan kebijakan hanya menguntungkan kelompok atas dan merugikan kelompok bawah seperti saat ini. Apabila negara tidak melakukan lockdown, maka cukup kebijakan komprehensif ini dilakukan dan harus dilakukan segera untuk keselamatan semua, khususnya mereka yang miskin dan terpapar Covid-19 yang paling besar. Negara harus menyadari bahwa kebijakan social distancing ini tidak tepat kepada yang miskin (bias against the poor) yang justru seharusnya dilindungi oleh negara untuk penyelamatan ekonomi termasuk juga kaum atas.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apatisme kaum muda terhadap perpolitikan dan saatnya kaum muda lebih peduli

Generasi muda mempunyai energy yang besar serta ide-ide yang cemerlang untuk membawa perubahan positif. Oleh karenanya, kaum muda sngat di butuhkan dalam berbagai bidang termasuk dibidang politik tetapi masih banyak dari kalngan kaum muda lebih memilih untuk acuh tak acuh terhadap perpolitikan dan tidak ingin tau bagaimana Indonesia krisis perpolitikan. Dalam sejarah panjang peran pemuda dalam perpolitikan Indonesia telah mengalami berbagai konteks sosial-kultural yang di hadapinya, jauh sebelum Indonesia merdeka pemuda telah memperlihatkan partisipasi politik yang tinggi sebagai perwujudan dari keinginan untuk membebaskan diri dari koloniaisme.Kini wacana pemimpin muda mencuat kembali dalam politik Indonesia .              Seiring berjalannya waktu setelah reformasi kita dapat melihat bahwa dunia politik Indonesia tak mengalami perbaikan , bahkan korupsi lebih marak . Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai kaum muda yang ak...